Di masa sel telur yang matang dan siap dibuahi di mana siklus menstruasi wanita disebut sebagai masa subur. Pada masa itulah bila wanita tersebut melakukan hubungan seksual maka kemungkinan besar akan terjadi kehamilan. Di mana esterogen dan progesteron merupakan hormon seks wanita yang mempengaruhi siklus menstruasi. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh wanita yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti:
1. Perubahan suhu basal tubuh
Peningkatan
suhu menunjukkan adanya ovulasi. Peningkatan suhu yang menetap selama 3 hari
mengindikasikan 48 jam setelah ovulasi dan menandakan dimulaiya fase tidak
subur setelah ovulasi. Peningkatan suhu ini sekitar 0,2˚C atau lebih. Cara
penggunaanya:
a. Setelah bangun tidur dan sebelum
bangkit dari tempat tidur suhu diukur.
b. Waktu pengukuran yang bervariasi
lebih dari 1 jam, harus dicatat.
c. Melalui mulut. Ujung perak
termometer diletakkan di bawah lidah dengan bibir tertutup selama lebih kurang
5 menit.
d. Melalui vagina. Termometer
dimasukkan ke vagina secara perlahan. Waktu pencatatan lebih kurang 3 menit.
e. Melalui anus. Dengan menggunakan
jelly atau vaselin yang dioleskan di ujung termometer, termometer dimasukkan ke
anus dengan perlahan, dengan posisi berbaring pada salah satu sisi dan lutut
ditarik ke atas. Waktu pencatatan lebih kurang 3 menit.
f.
Untuk
akurasi, bila salah satu metode telah dipilih untuk digunakan, maka sebaiknya
tidak diganti sampai dengan siklus berikutnya.
g. Grafik dibuat dengan menggambarkan
hasil pembacaan suhu dengan sebuah titik pada lokasi yang sesuai. Titik-titik
ini kemudian dihubungkan untuk membentuk sebuah grafik. Jika terjadi kelupaan
pengukuran, titik-titik tersebut tidak boleh disambung.
h. Termometer sebaiknya dibersihkan
dengan kapas dan air dingin. Jenis Termometer:
·
Termometer
manual: jika air raksa berhenti di antara dua angka, angka yang terendah yang
dicatat.
·
Termometer
digital: hanya mencatat satu angka decimal
i.
Grafik
baru dimulai pada hari pertama menstruasi. Jika menstruasi mulai pada siang
hari, hasil pengukuran pada pagi harinya dipindahkan pada grafik yang baru.
j.
Segala
sesuatu yang tidak biasa seperti demam, tidur larut, kondisi sedang stres
sebaiknya dicatat.
k. Sebaiknya memiliki dua buah
termometer, untuk mengantisipasi bila termometernya pecah.
2. Perubahan sekresi lendir leher rahim
(serviks)
Cara
mengenali lendir serviks:
a. Rasa atau sensasi.
Sensasi sangat penting dan sering merupakan hal tersulit untuk dipelajari. Ada
atau tidaknya lendir dikenali dengan sensasi pada vulva. Sensasi mungkin merupakan rasa yang jelas tentang kering,
lembab, lengket, basah, licin, atau lubrikasi
b. Penampakan.
Kertas tisu putih dan lembut diusapkan pada vulva.
Tisu akan basah dan bila ada lendir serviks, lendir akan terlihat menggumpal
pada tisu. Warna lendir dicatat, mungkin berwarna putih, krem, buram, atau
transparan. Lendir sering terlihat pula pada celana dalam, dalam kondisi kering
sehingga karakteristiknya telah beruban
c. Tes jari. Tes
ini dapat dilakukan pada lendir yang terdapat di atas tisu dengan cara
mengambil lendir tersebut dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Dengan
perlahan, jari telunjuk ditarik, untuk melihat elastisitas lendir. Lendir
mungkin elastis, atau mudah pecah, atau lembut, licin seperti putih telur yang
mentah. Elastisitas ini dikenal dengan nama efek Spin dan menunjukkan bahwa
lendir subur.
3. Perubahan pada serviks
Perubahan
pertama pada serviks sering terjadi
satu atau dua hari sebelum perubahan pada lendir serviks dan dapat memberikan tanda awal sebelum masa subur. Pada
umumnya memerlukan waktu dua atau tiga siklus agar dapat secara akurat
mengenali perubahan panjang, posisi, konsistens, dan terbukanya serviks. Pengamatan pada serviks akan memberikan tambahan
informasi dan sangat berguna bagi yang mempunyai siklus panjang, selama
menyusui atau pada masa sebelum menopause.
Perubahan pada serviks sebagai berikut:
a. Selama fase tidak subur sebelum
ovulasi, serviks terletak rendah
dalam vagina dan mudah dicapai oleh ujung jari.
·
Serviks panjang, miring, dan menempel pada
dinding vagina.
·
Terasa
kaku, seperti ujung hidung.
·
Mulut
serviks tertutup, memberikan sensasi
seperti lesung pipi ketika disentuh, dan terasa kering
b. Selama masa subur, serviks naik ke atas dalam vagina
·
Serviks memendek, lurus, dan terletak di
tengah vagina.
·
Sulit
disentuh. Jika teraba terasa lembut seperti meraba bibir bawah.
·
Mulut
serviks terbuka, sehingga dapat masuk
ujung jari.
·
Terasa
basah dan terdapat lendir.
c. Fase transisi. Pada
fase transisi, jumlah lendir meningkat dan lendir dengan warna seperti awan
dapat dilihat. Elastisitas rendah dan menimbulkan sensasi basah. Lendir pada
fase ini, sperma dapat hidup sampai dengan 3 hari, bahkan pada kasus yang
jarang dapat hidup sampai dengan 5 hari atau lebih.
d. Hari puncak.
Hari puncak
menunjukkan hari terakhir di mana lendir yang elastis, transparan terlihat atau
dirasakan.
e. Fase tidak subur setelah ovulasi, serviks akan kembali ke kondisi tidak
subur dalam waktu 24–48 jam. Sensasi licin menghilang dan secara tiba-tiba
kembali ke kering lagi.
Ujung jari
dapat merasakan perubahan serviks. Dengan
sentuhan jari yang lembut, dapat menegali perubahan serviks dari hari ke hari. Serviks
sebaiknya diperiksa setiap hari pada waktu yang sama. Misalnya, pada saat mandi
pagi. Lakukanlah pemeriksaan dengan cara jongkok atau salah satu kaki di naikan
ke bibir bak air. Setiap kali pemeriksaan sebaiknya menggunakan posisi yang
sama. Tangan dicuci bersih dengan menggunakan sabun dan dikeringkan (kuku
tangan harus pendek). Jari telunjuk tangan kanan secara perlahan dimasukkan
dalam vagina sampai teraba serviks. Sebelum
memeriksa, kandung kemih harus kosong (buang air kecil terlebih dahulu).
Pada
perabaan serviks terasa bola licin
yang berlekuk, sedangkan vagina akan teraba lembut, lembab, dan berlekuk-lekuk.
Jika serviks sulit dicapai, rahim
dapat didorong ke bawah dengan menekan perut bagian bawah sedikit tulang pubis
dengan tangan kiri. Dengan pengalaman, pemeriksaan hanya memakan waktu beberapa
detik.
4. Panjangnya siklus menstruasi (metode
kalender)
Siklus masa
subur pada setiap wanita tidak sama. Untuk itu perlu pengamatan minimal 6 kali
siklus menstruasi. Berikut ini cara mengetahui dan menghitung masa subur:
a. Asumsi
bila siklus menstruasi teratur (28 hari). Menstruasi
dari hari pertama sampai dengan menstruasi berikutnya merupakan siklus panjang sebaiknya
Anda ukur, tapi tidak termasuk hari pertamanya. Sedangkan untuk menstruasi yang
teratur adalah siklus menstruasi Anda teratur setiap bulannya. Artinya, hari pertama menstruasi sampai dengan hari terakhir sebelum menstruasi
berikutnya berada
dalam kondisi tetap setiap bulannya. Misalnya 28 hari, 29 atau 30 hari. Hal
tersebut bias Anda ketahui dari tiga kali menstruasi.
Kalau siklus
menstruasi Anda teratur, tentu Anda bisa mengira-ngira tanggal berapa bulan
berikutnya Anda akan mengalami menstruasi. Dari tanggal tersebutlah Anda bisa
menghitung kapan masa suburnya. Hitunglah mundur 14 hari dari tanggal perkiraan
Anda menstruasi berikutnya. Itulah hari diperkirakan pelepasan sel telur dari
ovarium terjadi (ovulasi) yang berarti itulah perkiraan masa subur seorang
wanita.
b. Asumsi
bila siklus menstruasi tidak teratur. Sebaiknya
perhitungan dibuat dengan mengambil siklus terpendek dan terpanjang dalam satu
tahun, minimal 6 bulan. Dengan menganggap bahwa sperma dapat hidup di kelamin
perempuan selama sehari dan masa hidup sel telur 2 hari, maka diperoleh rumus
sebagai berikut: Siklus terpendek – 20 = hari terakhir masa tidak subur sebelum
ovulasi. Siklus terpanjang – 10 = hari terakhir masa subur
Misalnya,
panjang siklus selama 6 bulan terakhir adalah 28, 29, 28, 27, 30, dan 28. Maka
hari terakhir masa tidak subur sebelum ovulasi adalah hari ke 7 (27-20), dan
hari terakhir masa subur adalah hari ke 20 (30-10). Untuk mempercepat
kehamilan, disarankan untuk berhubungan seksual pada hari ke-8 sampai dengan
ke-20. Sel telur dapat dibuahi hanya dalam beberapa jam setelah ovulasi dan
masa hidup sperma di kelamin perempuan bervariasi dan mungkin lebih dari 3
hari.
5. Tanda-tanda ini tidak begitu kuat,
tetapi berguna untuk meyakinkan hasil pengamatan. Indikator minor kesuburan
seperti nyeri perut dan perubahan payudara.
a. Sakit karena ovulasi (Mittelschmerz pain) – rasa sakit yang
tajam atau tumpul pada salah sisi perut bagian bawah selama beberapa jam.
b. Gejala-gejala pada payudara – rasa
kencang dan menggeleyar pada payudara dialami pada sekitar ovulasi.
Dengan
mengetahui masa subur, ini akan bermanfaat bagi pasangan yang bermasalah dalam
mendapatkan keturunan, yaitu dengan cara:
·
Menilai
kejadian dan waktu terjadinya ovulasi.
·
Memprediksikan
hari-hari subur yang maksimum.
·
Mengoptimalkan
waktu untuk melakukan hubungan seksual untuk mendapatkan kehamilan.
·
Membantu
mengindentifikasi sebagian masalah infertilitas.
Penelitian
menunjukkan bahwa kesempatan untuk mendapatkan kehamilan terbatas pada 5 hari
sebelum dan sehari setelah peningkatan suhu. Hari yang paling subur ditemukan 2
hari sebelum perubahan suhu yang mendekati hari puncak lendir.
Pada
pasangan yang normal, kehamilan mungkin terjadi pada setiap waktu pada masa subur.
Di mana hari-hari untuk melakukan hubungan seksual pada saat vagina terdapat
lendir serviks dengan kesuburan
tinggi. Bila dalam 6 bulan setelah
melakukan hubungan seksual secara teratur dalam masa subur namun tidak terjadi
kehamilan, sebaiknya menemui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara
bagi Anda yang tak mau untuk hamil dulu, sebenarnya Anda dapat mencegahnya
dengan mengatur hubungan seksual. Di mana pada masa subur, sebagaimana
dijelaskan di atas, Anda tidak melakukan hubungan seksual pada masa-masa subur.
Sehingga pembuahan pada sel telurpun tidak terjadi.
Perlu Anda ketahui bahwa untuk
melakukan hubungan seksual pada fase tidak subur sebelum ovulasi
masih memiliki risiko
kehamilan meski tidak besar. Fase ini tergantung pada tingkat kesuburan sperma,
karena bila sperma hidup pada lendir yang subur, masa hidup sperma akan
memanjang.
Ovulasi
dapat pula terjadi lebih awal daripada perkiraan. Pada wanita dengan siklus
yang pendek antara 21– 24 hari atau dengan mentruasi yang lama, lendir dapat
timbul segera setelah menstruasi atau bahkan sebelum menstruasi selesai. Pada
kasus seperti ini, hubungan seksual dapat menyebabkan kehamilan.
Sedangkan
pada fase tidak subur setelah ovulasi merupakan
waktu paling aman untuk melakukan hubungan seksual bila ingin mencegah
kehamilan. Jika saat ovulasi telah ditentukan, tidak ada resiko lebih lanjut
untuk timbulnya kesuburan dalam siklus ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar