Sudah banyak
dibicarakan dalam masyarakat mengenai perawatan kesehatan dan kebersihan
vagina. Hal tersebut dikarenakan orangtua selalu mengajarkan pada anak
perempuannya sejak masih kecil.
Secara umum
perawatan terhadap kesehatan dan kebersihan vagina, ada beberapa hal yang harus
Anda perhatikan, antara lain:
1. Menjaga
kebersihkan daerah vagina
Menjaga
kebersihan vagina bukan berarti selalu mencucinya sampai super bersih. Bukan
juga dengan membuatnya selalu kering dan wangi dengan cara menaburkam bedak.
Perlu diketahui ekosistem normal vagina cenderung asam dengan pH antara
3,5-4,5. Keasaman itu perlu dijaga agar tidak menimbulkan penyakit.
Ada beberapa
permasalahan yang berhubungan dengan daerah kewanitaan. Yaitu: pertama, rasa gatal-gatal pada
daerah vulva (mulut vagina). Waspadai bila ada rasa gatal-gatal pada
daerah vulva (mulut vagina). Alergi bisa jadi salah satu faktor
penyebab rasa gatal tadi. Akan tetapi, secara umum, infeksi jamur atau virus
merupakan faktor utama rasa gatal di daerah vulva. Sehingga akan mempengaruhi
tingkat keasaman vagina. Artinya, tinggkat keasaman vagina yang harusnya stabil
antara pH 3,5 – 4,5, ini malah lebih, yang akhirnya malah menjadi kacau. Bila
dirasa gatalnya belum begitu parah, bisa Anda mencobanya dengan membasuh dengan
sabun khusus untuk membersihkan vagina. Atau, ramuan tradisional, seperti air
rebusan sirih dan lainnya. Namun, bila keluhan tidak hilang juga, periksakan ke
dokter kandungan.
Oleh karena
itu, rawatlah kebersihan pada daerah vagina, Anda bisa mencucinya di setiap habis
buang air kecil, buang air besar, dan ketika mandi. Caranya sangat sederhana, yaitu
basuhlah vagina dengan menggunakan air bersih secara teratur dan hati-hati pada
bagian di antara vulva (bibir vagina). Akan lebih baik bila membasuh vagina
dengan menggunakan air hangat. Di samping membersihkan karena habis buang air
kecil, juga membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada disekitar vulva di
luar vagina.
Basuhlah
vagina dengan cara benar. Yaitu, basuhlah dari arah depan (vagina) ke belakang
(anus), jangan sampai terbalik. Bila membasuh vagina dari arah belakang ke
depan dikhawatirkan akan menyebabkan bakteri yang ada di sekitar anus terbawa
masuk ke vagina.
Selanjutnya,
jangan sekali-kali membersihkan vagina dengan menggunakan deodoran, sabun
antiseptik yang keras, atau cairan pewangi (parfum). Walaupun niat Anda adalah
baik, yaitu untuk menghilangkan bau di daerah kewanitaan. Tapi hal tersebut
bukanlah tindakan yang bijaksana, bahkan malah bisa berbahaya untuk kesehatan.
Kedua,
peradangan pada vagina (vaginitas).
Peradangan ini terjadi karena perubahan keseimbangan normal bakteri yang hidup
di sana. Tanda atau gejala paling umum adalah munculnya cairan yang berwarna
putih keruh keabuan dan berbusa serta menimbulkan bau kurang sedap. Pada vagina
yang sehat, juga hidup berbagai bakteri dan organisma termasuk yang merugikan
dan bisa menyebabkan vaginitis. Biasanya bakteri ini tidak membuat masalah
karena masing-masing jumlahnya tidak banyak.
Oleh karena
itu, jangan terlalu sering, kalau bisa hindari, membasuh vagina dengan cairan
kimia (douching), seperti penggunaan deodoran dan farfum. Walaupun niat
Anda adalah baik, yaitu untuk menghilangkan bau di daerah kewanitaan. Tapi hal
tersebut bukanlah tindakan yang bijaksana, bahkan malah bisa berbahaya untuk
kesehatan. Salah satunya adalah akan merusak kesimbangan yang ada sehingga akan
memungkinkan terjadinya infeksi.
Ketiga,
dinding vagina dan leher rahim memproduksi cairan. Itu sebabnya di daerah
vagina akan selalu memunculkan ada bau khas. Cairannya berwarna putih atau
kekuningan. Inilah vagina yang sehat dan normal. Bau, rasa, dan tingkat
kekentalan cairan ini bisa berubah-ubah seiring dengan siklus menstruasi Anda.
Cairan ini juga akan berubah kalau ada sesuatu yang tidak beres. Kebersihan
daerah kewanitaan juga bisa dijaga dengan sering mengganti pakaian dalam,
paling enggak sehari dua kali di saat mandi.
Ada beberapa
cara merawat vagina dengan ramuan herbal yang bisa Anda gunakan. yaitu:
a. Daun pepaya dan sirih. Kombinasi tumbukan daun papaya dan
daun sirih ternyata berkhasiat untuk membuat organ kewanitaan menjadi keset.
Caranya, daun papaya dan sirih ditambahkan cabal hijau ditumbuk sampai halus.
Beri air panas, lalu saring. Setelah itu campurkan dengan asam kawak
secukupnya. Ramuan ini diminum pagi dan malam hari selama beberapa hari.
b. Kemangi & Pandan. Wanginya kemangi dan daun pandan
bermanfaat untuk membuat organ kewanitaan menjadi harum. Caranya, kemangi
dan pandan wangi ditumbuk halus jadi satu, lalu diberi ½ gelas air, diperas dan
disaring. Setelah itu, beri garam sedikit dan masukkan gula aren. Diaduk sampai
rata hingga gula menjadi larut. Diminum beberapa jam setelah makan malam,
selama 2 minggu.
c. Sirih, gambir dan Kulit pinang muda. Ramuan sirih, gambir, dan kulit
pinang muda bisa membuat Anda merasa menjadi gadis kembali. Caranya, kulit
pinang disobek-sobek kecil, gambir ditumbuk halus, kapur sirih diayak bersih.
Semua bahan tadi direndam dengan air yang mendidih, biarkan mengendap dan
dingin. Setelah itu, Anda bisa menggunakannya untuk membasuh organ V beberapa
kali sehari.
Di samping itu juga, Air rebusan
daun sirih untuk menghilangkan keputihan. Daun sirih
memang sangat bermanfaat sebagai antiseptik untuk mencuci vagina. Namun daun
sirih tidak boleh digunakan tiap hari karena akan mengakibatkan iritasi dan
pengeringan pada vagina.
d. Manjakani (Oakgalls). Ekstrak manjakanlah yang teraman buat vagina
Anda. Tanaman ini berkhasiat untuk merawat kesehatan, membersihkan organ intim
wanita dan menghilangkan bau tak sedap, bersih harum dan kesat, keputihan serta
mampu mengencangkan otot vagina dan menyempitkan liang vagina Anda. Hal ini
tentu akan membangkitkan rasa percaya diri untuk kemesraan hubungan suami-istri.
2. Bebaskan serviks dari bakteri
Leher rahim (Serviks)
merupakan lorong sempit yang menghubungkan vagina dengan rahim. Di bagian
inilah bakteri yang masuk lewat vagina dihalangi, agar tidak menyusup lebih
dalam ke organ reproduksi yang lain. Bakteri maupun virus paling mudah hinggap
di tubuh kita melaui hubungan seksual. Misalnya Human Pappiloma Virus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks. Untuk
menekan peluang kuman masuk, lakukan pencegahan berupa: pertama, tes Pap Smear secara rutin. Bertujuan mendeteksi
pertumbuhan sel kanker abnormal di serviks. Bagi wanita dewasa, tes ini wajib
dilakukan setiap dua tahun sekali. Waktu yang tepat untuk Pap Smear adalah satu
minggu setelah hari terakhir haid.
Kedua,
vaksinasi
HPV. Vaksin ini dapat disuntikan pada wanita berusia 9-26
tahun. Bagi wanita yang pernah berhubungan seksual, perlu dilakukan pemeriksaan
terlebih dahulu. Penyuntikan dilakukan tiga kali dalam setahun, dengan rentang
waktu masing-masing 3 bulan.
3. Menjaga kesehatan pada masa
menstruasi
Menstruasi
adalah hal yang normal yang harus kita jalani, karena pada saat itu rahim
sedang meluruhkan lapisan dinding rahim yang berupa darah yang tidak dipakai
karena tidak terjadi pembuahan.
Untuk
menampung darah yang keluar (mens) biasanya menggunakan pembalut. Pembalut
harus berbahan yang lembut, menyerap dengan baik, tidak mengandung bahan yang
bikin alergi (misalnya parfum atau gel) dan merekat dengan baik pada celana
dalam. Pembalut itu perlu diganti sekitar empat sampai lima kali dalam sehari
untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang berkembang biak pada pembalut
tersebut, dan menghindari masuknya bakteri tersebut ke dalam vagina.
4. Pahami rahim
lebih mendalam
Terganggunya
kesuburan wanita bisa dipicu oleh disfungsi hormon, munculnya penyakit
tertentu, atau gangguan pada indung telur. Namun, selama ini masyarakat kerap
keliru, menganggap bahwa posisi rahim mempengaruhi peluang untuk hamil.
Dikatakan bahwa wanita dengan posisi rahim lebih ke belakang atau menghadap ke
bawah lebih sulit menghasilkan keturunan. Pernyataan tersebut tidak benar.
Buktinya, banyak wanita dengan posisi rahim menghadap ke bawah (retofleksi) mampu memiliki banyak anak.
Wanita dengan posisi rahim retofleksi
juga mampu melahirkan secara normal, selama tidak ada indikasi medis yang lain.
Masalah yang
lebih rentan mengganggu kesuburan adalah endometriosis.
Yakni, ketika lapisan pelindung dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar dinding rahim. Kita bisa menelusuri
keberadaannya dengan mengenali gejalanya. Yang paling umum adalah timbul nyeri
hebat dan pendarahan sangat banyak saat haid. Jika ini yang terjadi, sebaiknya
segera konsultasi ke dokter untuk mengetahui penyelesaian lebih lanjut.
5. Perhatikan dalam memilih celana dalam
Perlu kita
perhatikan dalam memilih celana dalam yang baik. Tidak jadi patokan bahwa
celana dalam yang bermerek dan mahal merupakan celana dalam baik.
Berikut ini beberapa
hal yang harus Anda perhatikan dalam memlilih celana dalam, antara lain:
a. Terbuat dari bahan katun.
Katun
merupakan kain yang dapat menyerap keringat dan membiarkan kulit untuk bernapas
dengan sempurna. Sehingga ketika dipakai, Anda pun merasa nyaman.
Begitu juga
dengan bahan campuran, seperti spandex, lycra, lateks, sutra, nilon atau
vynil untuk membuat celana dalam menjadi strecth. Walaupun bahan
elastis menguntungkan untuk membentuk kontur tubuh. Yang perutnya gendut jadi
tampak rata, yang pantatnya turun jadi kelihatan kencang. Tetapi, jika Anda
memakainya akan membuat Anda kegerahan sehingga vagina menjadi lembab. Otomatis
bakteri dan jamur pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan cepat. Apalagi
bagi Anda yang memiliki kulit sensitif, campuran bahan-bahan di atas, berisiko
menimbulkan iritasi. Tanda yang biasanya muncul adalah bintik-bintik merah dan
terasa panas serta gatal di kulit yang terkontak dengan celana dalam.
Di samping itu juga, hindari
pemakaian celana dalam berenda. Karena, bahan berenda lebih banyak menyimpan
deterjen bila dicuci. Sekalipun dibilas, tapi tak semuanya terbilas dengan baik
bila dibandingkan dengan mencuci celana dalam katun.
b. Model celana dalam disesuaikan
dengan bentuk tubuh
Jika bentuk bokong turun dan lebar,
mengenakan celana dalam model g-string pasti tidak cocok. Gesekan antara
bagian penyangga dengan vagian Anda akan mudah lecet. Dikarenakan tekanan gravitasi
dari bokong. Berperut buncit dan
berpinggul lebar. Pilihlah celana dalam model full figure atau maxi,
karena melindungi seluruh area organ intim, sehingga nyaman dan sehat dipakai.
Bagi Anda yang memiliki tubuh langsing,
berbokong tinggi dan masih kencang, sebaiknya Anda model thong atau
mini. Untuk menimbulkan kesan seksi, atau bila sedang mengenakan gaun pesta
yang ketat, pilih model g-string atau thong agar bentuk celana
dalam tidak mencetak di gaun. Tetapi hindari memakai model ini untuk waktu yang
lama mengingat model ini tak melindungi bagian bawah seutuhnya.
d. Ukuran celana dalam
Celana dalam terlalu ketat akan
terasa gerah dan menyebabkan peredaran darah terganngu. Sesuaikan ukuran celana
dalam Anda dengan bokong Anda. Jangan terlalu ketat dan juga tidak kedodoran. Cari
ukuran yang pas. Jangan pilih celana dalam yang terlalu ketat atau longgar.
Pastikan kulit Anda tidak tertekan oleh celana dalam. Jika ada tanda kulit
tertekan, berati Anda membutuhkan celana dalam dengan ukuran lebih besar.
Karet di bagian perut juga tak boleh
terlalu ketat karena akan timbul alergi akibat tekanan lantaran pemakaian yang
terlalu ketat dan terus-menerus. Jadi, timbul merah-merah di bagian yang
tertekan itu.
e. Warna celana dalam
Pisahkan celana dalam yang dipakai
saat menstruasi dengan celana dalam yang dipakai sehari-hari. Jangan sampai pemakaian
celana dalam saat menstruasi atau tidak adalah sama. Jangan lupa memilih warna
yang dipakai saat menstruasi yang berwarna gelap. Hal itu agar ketika darah
terkena celana tidak berbekas.
Selain itu, warna celana dalam harus
menyesuaikan dengan pakaian luar. Sehingga tidak terlihat atau mencolok dan
tembus pandang dari luar. Sediakan celana dalam sebanyak mungkin untuk
menghindari kekurangan celana dalam pada saat cuaca tertentu, seperti pada saat
musim hujan.
teriamakasih banyak... ternyata ada dampak burknya ya...
BalasHapus